Rabu, 15 Mei 2013

[Fanfic] A Thousand Years (Sequel of Camera)

Author : Nindya Syefirra Utami (@nindyasfira)
Genre : Romance, Sad
Cast : 
Kim Yesung
Lee Yura, etc
Note : DO NOT COPY !!!!
Official Website : http://nindyasyefirrautami.blogspot.com



-Happy Reading -




“Aku mencintaimu” ucap mempelai pria.

“Aku juga mencintaimu” jawab mempelai wanita dengan wajah berbinar.

Cup, satu kecupan mendarat dibibir merah wanita tersebut. Pria tersebut langsung memeluk wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut.

“Ingat perjanjian kita !” ucap pria itu dengan nada yang begitu dingin dan menusuk.

“Arra, aku selalu mengingatnya, kau tenang saja tuan Lee” jawab wanita tersebut dengan nada tak kalah dingin dan menusuk.

“Jangan pernah tinggalkanku, arra !” ucap pria tersebut sambil melepaskan pelukannya.

“Ne, aku akan selalu berada disisimu nae nampyeon” jawab wanita tersebut.


--00—


“Yak, Kim Taeyeon !” teriak seseorang yang sedang berkutat dengan gamenya.

“Wae ?” bentak Taeyeon yang sedang memasak.

 “Ambilkan aku minum, ppali !” ucap pria tersebut.

“Aish” rutuk Taeyeon sebelum ia mengambil segelas air mineral.

“Ige oppa !” gumam Taeyeon dengan nada malas.

“Yak, bisakah kau sedikit sopan terhadap oppamu yang tampan ini” gumam pria itu sambil mempause pspnya itu.

“Tampan ? Kukira lebih tampan choco dibandingkanmu” cibir Taeyeon terhadap oppanya.

“Choco ? Hewan mengerikan milik Lee Donghae, namjachinggumu ? Neo jinja !” rutuk pria itu.

“Sudahlah, aku akan ke dapur, ah chakka ! Jika kau memanggilku lagi, kau akan mati Kim Yesung !” ucap Taeyeon dengan nada mengerikan.


--00—


Seorang wanita berparas sangat amat cantik sedang berjalan dikawasan sungai han. Dinginnya udara malam tak membuat wanita tersebut berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.  Sekilas, senyum kebagahagian terukir di bibir merahnya itu. Mungkin dikarenakan ia memiliki waktu luang, setelah ia melakasanakan pernikahan sehari yang lalu.

“Apakah ia akan menepati janjinya ?” gumam wanita itu sambil bersandar di pagar piggiran sungai han.

“Apakah aku pantas mengharapkan janjinya, sementara aku telah memiliki suami?” wanita berambut coklat itu menghela nafas berat.

“Sudahlah, mungkin ia lupa akan janjinya” ia membalikan tubuhnya menghadap sungai yang ada didepannya.

Bip.bip.bip, ponsel wanita bergetar.

“Yeobseo ?” wanita itu memulai pembicaraan.

“...............................”

“Ne oppa, aku akan pulang sekarang”

“...............................”

“Annyeong” tanpa pikir panjang, wanita itu langsung berlari menuju tempat parkir mobil.

Brukk, ia menabrak seseorang.

“Ah, mianhamnida” gumam wanita itu sambil menundukan tubuhnya 90 derajat.

“Ah, gwaen,,, Lee Yura ?” lelaki tersebut membelakan matanya sesaat saat melihat wanita yang ada di hadapannya sekarang.

“Kim Yesung” ucap Yura itu tak kalah senang.

“Bogoshipo, Yura-ah” Yesung langsung memeluk erat tubuh mungil Yura.

“Nado, Yesungie” Yura mengeratkan pelukannya, tanpa menyisakan satu celah diantara mereka.

Pertemua ke-dua, setelah 4 tahun lamanya berpisah. Mereka berpelukan sangat erat, melampiaskan rasa rindu yang mereka pendam. Merasakan setiap kehangatan yang diberikan oleh lawan jenisnya masing-masing.

“Mianhae” Yura melepaskan pelukanya lalu menundukan kepalanya.

“Wae ?” tanya Yesung.

“Mianhae” ucap Yura lagi dengan nada bergetar.

“Wae? Malhae” pinta Yesung dengan nada lembut.

“Mi...mi...mian” kali ini air mata Yura tak bisa terbendung lagi, mengeluarkan butiran kristal dari pelupuk mata hazelnya.

Yesung menarik tengkuk wajah Yura agar ia bisa melihat wajah Yura. Wajah Yesung berubah menjadi mencelos, ketika melihat air mata yang keluar dari kedua pelupuk mata Yura. Ia tak tahu apa yang ia harus lakukan sekarang.

“Uljima” Yesung menempelkan kedua ibu jarinya tepat dipipi Yura, menghapus setiap butiran air mata yang keluar dari wajah cantik sahabatnya itu.

“Yesung-ah, mianhae” air mata yang tadi telah reda, kembali keluar.

“Uljima, Yura-ah, jebal” Yesung kembali memeluk Yura, membiarkan berjuta butiran air mata membasahi mantel hitam yang sedang ia gunakan.

“Yesung-ah” Yura melepaskan pelukannya.

“Malhaebwa!” pinta Yesung kembali.

“Aku telah menikah” ucap Yura dengan nada sangat amat pelan.

Bagaikan diserang beribu-ribu volt arus listrik, ia hanya bisa menatap nanar wajah Yura. Manampilkan ekspresi sangat amat tertekan. Wanita yang ia tunggu selama 4 tahun bahkan lebih, telah menikah. Ingin sekali ia berteriak saat ini juga, melampiaskan semua emosi yang ada di benaknya. Tetapi, sekalipun ia harus berteriak, keadaan tak bisa kembali seperti semula.

“Kkauu....” lirih Yesung.

“Mianhae, Yesung-ah, aku terpaksa” gumam Yura.

“Sudahlah, lebih baik kau pulang. Kau tak kasihan terhadap suamimu yang mungkin sekarang sedang menunggumu?” Yesung mencba menetralkan suasana, walau pun suasana hatinya sangat kacau.

“Ne, arasseo” gumam Yura.

Dengan langkah gontai Yesung meninggalkan Yura yang masih berdiri mematung sambil melihat puggung Yesung yang perlah menghilang.

Tes..tes..tes.. gerimis turun membasahi Kota Seoul. Yura masih bediri mematung, membiarkan hujan membasahi dirinya, membiarkan air mengalir di tubuhnya, berharap air tersebut mengalir dengan membawa masalahnya. Ia sudah cukup penat dengan semua masalah yang dihadapinya, jika memungkinkan ia lebih memilih mati dibandingkan hidup dengan masalah-masalah yang dihadapinya.

“Yura!” seseorang menghampiri Yura.

“Yura, sadar ! Ini aku Yesung, aku akan terus berada di sampingmu” gumam Yesung sambil mengusap wajah Yura yang terkena air hujan.

“Hujan semakin deras, lebih baik kita berteduh di halte itu” Yesung menarik Yura menuju halte di seberang jalan.

Tubuh Yura bergetar hebat, bibirnya membiru, dan kulitnya berubah menjadi pucat. Ia melipatkan kedua tangannya tepat di atas perutnya.

“Kau kedinginan” gumam Yesung. Ia melepaskan mantel yang ia gunakan, lalu memakaikannya ke pundak Yura.

“Gomawo” gumam Yura. Ia memejamkan matanya sejenak, merasakan setiap kehangatan dari mantel yang ia gunakan.

Grepp, Yesung memeluk tubuh Yura. Mencoba memberikan sedikit kehangatan pada tubuh Yura. Yura memejamkan matanya saat Yesung memeluk tubuhnya. Hangat, itulah yang ia rasakan saat ini. Tubuh Yesung mampu membuat suhu dalam tubuh Yura berubah 180 derajat.

Tanpa sengaja pandangan Yesung bertemu dengan mata hazel milik Yura. Perlahan Yesung mendekatkan wajahnya ke wajah Yura. Yura merasakan deru nafas Yesung yang sangat hangat. Kemudian Yesung membelai lembut pipi Yura, sementara ibu jarinya membelai bibir bawah Yura dengan amat lembut. Ada perasaan lain saat Yesung menyentuhnya (Yura). Kali ini Yura bisa merasakan sengatan disetiap sentuhan Yesung yang membuatnya memejamkan kedua matanya.

Yura merasakan sensasi basah pada bibirnya. Semua itu karena Yesung mencium bibir Yura dengan lembut. Tangannnya masih terus membelai kedua pipi Yura, beralih pada tengkuk dan menekannya. Ciuman kali in membuat Yura melayang, bagaikan beribu-ribu kupu-kupu terbang di perutnya. Yesung melepaskan ciumannya, membuat Yura membuka kedua matanya yang tertutup rapat sejak tadi.

“Mianhae” ucap Yesung canggung.

“Ngg, gwaenchana” jawab Yura kebingungan.

“Hujan belum reda” gumam Yesung.

“Ne” jawab Yura singkat.

“Kau masih kedinginan ?” tanya Yesung.

“Anni, sudah lebih hangat” Yura tersenyum simpul.

“Ngg, Yura-ah” nada Yesung berubah menjadi serius.

“hmm?” Yura membalikan kepalanya ke arah Yesung.

“Kau cinta, maksudku kau cinta terhadap suamimu ?” tanya Yesung.

“Anni, sudah ku katakan jika pernikahan ini didasari dengan paksaan”

“Arra, geunde, apakah kau masih menyimpannya ?”

“Menyimpannya ?” Yura belum mengerti maksud dari pertanyaan Yesung.

“Kata ‘nado saranghae’ saat kau akan kembali ke busan” Yesung mencoba memberi gambaran pada Yura.

“Oh, apakah aku tak terlihat mencintaimu?”

“Anni, aku tahu kau masih menyimpannya, saranghae Lee Yura” Yesung kembali memeluk tubuh Yura.

“Nado” jawab Yura singkat.

“Ehm, Yesung-ah” Yura menggenggam pergelangan tangan Yesung.

“Hmm ?” Yesung membalas genggaman tangan Yura.

“Maukah kau menungguku ?” tanya Yura dengan tatapan pasti.

“Kau hanya menunggu selama 29 hari kedepan, setelah itu keadaan akan kembali normal” lanjut Yura.

“Aku akan menunggumu, walaupun aku harus menunggu selama seribu tahun, kerena aku yakin, kau adalah jodohku” gumam Yesung yang sukses membuat pipi Yura bersemu merah.

“Tetapi, apakah kau bisa bepegang pada satu tiang ?” tanya Yesung.

 “Kau harus percaya padaku, jika tidak hatiku akan semakin sakit” Yura lalu memeluk Yesung kembali.


--00--


“Oppa !” panggil wanita itu dengan nada manja.

“Wae ?” tanya lelaki yang sedang sibuk berkutat dengan benda elektronik dihadapannya itu.

“Ya, oppa ! Bisakah kau menyimpan benda terkutuk itu sejenak ?” gerutu wanita tersebut sambil berkacak pinggang di samping sofa.

“Ne, arata” lelaki itu langsung menyimpan pspnya.

“Wae ? Cha, duduk di sini !” gumam lelaki itu sambil menepuk sofa yang masih belum terisi.

“Oppa, aku merindukanmu” wanita itu langsung berbaring di atas paha lelaki itu.

“Taeyeon-ah, mengapa kau menjadi manaja seperti ini ? Bukankah setiap hari kita selalu bertemu, hmm ?” lelaki itu menundukan kepalanya sembari melihat wajah adiknya itu yang menurutnya sangat amat mirip dengannya.

“Oppa, Donghae memutuskan hubungannya denganku, eottokhae ?” mata onyxnya mulai berkaca-kaca.

“Taeyeon-ah, uljima” Yesung mulai menghapus air mata yang keluar dari mata Taeyeon.

“Oppa, eottokhae ?” air mata Taeyeon semakin mengalir deras.

“Gwaenchana, lelaki di dunia ini banyak Taeng, kalau kau mau, aku bisa menjadi namjachingumu” kelakar Yesung yang disambut dengan cubitan Taeyeon di pinggangnya.

“Aish, appotanika” Yesung menahan pergelangan tangan Taeyeon yang masih usil mencubit pinggang Yesung.

“Ehm, mengapa Donghae memutuskanmu ?” Yesung mulai curiga dengan pernyataan Yesung.

“Dia telah menikah oppa” mata onyxnya memandang Yesung dengan tatapan sendu.

“Menikah ? Dengan siapa ?” Yesung mulai penasaran, ia takut jika perkiraannya benar.

“Yura, Lee Yura” gumam Taeyeon dengan raut wajah semakin sendu.

“Mwo? Lee Yura?” Yesung membelakan matanya.

“Nde” Taeyeon mengelus pipi Yesung dengan telapak tangannya.

“Aku rindu Donghae oppa” lirihnya..

“Kau bisa menganggapku Donghae, saengi” Yesung melepaskan tangan Taeyeeon dari pipinya, lalu tersenyum simpul, walau pun hatinya sedang tak bisa dikompromi dengan kenyataan yang ia harus hadapi saat ini.


--00--


“Lee Donghae-ssi” gumam Yura yang sedang duduk di sebuah tempat makan.

“Wae ?” tanyanya singkat tanpa melihat siapa orang yang sedang berbicara di depannya.

“Apakah kau masih akan tetap bertahan ?” Yura menggigit bibir bawahnya tanda ia gugup dan takut akan jawaban Donghae.

“Ne, hanya tinggal 28 hari lagi, kau tak usah khawatir, aku akan memberikan surat cerai tepat pada tanggal 30” jawabnya sambil terus memperhatikan ponsel yang sedang ia pegang.

“Oh, ne” lirihnya, kembali menunduk sambil menunggu pesanan datang.

“Lee Yura !” teriak seseorang yang baru memasuki tempat makan tersebut.

Yura langsung membalikan tubuhnya, mengarah pada sumber suara “Yesungie” gumamnya sambil tersenyum.

“Yak, oppa ! Lepaskan genggamanmu ! Appo” rutuk seseorang yang sedari tadi berada di belakang tubuh Yesung.

“Mian” Yesung langsung tertawa garing dan mendorong wanita itu agar dapat berdiri sejajar dengannya.

“Yesungie, nuguseo ?” tanya Yura dengan hati-hati.

“Ah, perkenalkan, choneun Taeyeon imnida” ucapnya sambil menundukan tubuhnya.

Mendengar kata ‘Taeyeon’ lelaki yang sedari tadi bekutat dengan ponselnya, langsung membalikan tubuhnya menghadapkan wajahnya ke arah sumber suara. Lelaki itu langsung membelakan matanya, melihat Taeyeon yang tak lain adalah mantan kekasihnya, sedang berdiri dihadapannya.

“Taeng” tanpa sadar lelaki itu langsung mengeluarkan suaranya.

“Op...oppa....” lirih Taeyeon dengan mata yang hampir berkaca-kaca.

“Mianhae” lirih lelaki itu.

“Gwaenchana” jawab Taeyeon dengan senyum hambarnya.

“Ah, Donghae-ah, Yura-ah, bisakah kami bergabung dengan anda ?” ucap Yesung menetralkan suasana.

“Ah, ne” jawab Donghae.


--00--


30 hari kemudian

“Yesungie” teriak seseorang yang sedang berlari menuju taman.

“Ah, Yura-ah” teriak Yesung dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Grepp, Yura langsung memeluk tubuh jangkung Yesung.

“Bogoshipo” ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.

“Nado” Yesung memejamkan kedua matanya, menghirup aroma parfume khas milik Yura, yang menurutnya sangat amat menenangkan.

“Saranghae, Lee Yura” ucap Yesung, lalau mengecup dahi Yura.

“Nado, saranghae Kim Yesung” balas Yura.

Yesung menggenggam telapak tangan Yura, lalu menautkan jemari mereka.

“Mulai saat ini, aku akan menjagamu hingga ajal menjemput, ara ?” ucap Yesung.

“Ne, aku akan pegang janjimu, Kim Yesung” ucap Yura.

“Saranghae” ucap Yesung, lagi.

“Yak! Bukankah kau telah mengatakannya ?” tanya Yura.

“Apa peduliku, saranghae saranghae saranghae” jawab Yesung sembari mengacak-acak rambut Yura.

“Arra, mmm apakah kau tak ingin melamarku ?” tanya Yura ragu.

“Melamar ? Untuk apa ?” Yesung menautkan alisnya.

“Ah, lupakan !” Yura menghembuskan nafas beratnya lalu pergi meninggalkan Yesung, mungkin karena ia kesal dengan jawaban yang dilontarkan oleh kekasihnya itu.

“Chakkaman” ucap Yesung sambil memegang pegelangan tang Yura.

“Wae ?!” ucapnya dengan nada kesal.

“Igeo” Yesung menyerahkan setangkai bunga mawar merah.

“Omo, Yesungie” ucap Yura sembari menatap fokus bunga yang sedang di genggam oleh Yesung.

“Ini untukmu Yura-ah, dan.....” Yesung mengambil suatu benda yang ada di sakunya.

“Jari indahmu lebih baik diihasi oleh benda ini” ia lalu memasangkan cicin pada jari manis Yura.

“Will you marry me, Yura ?” ucap Yesung sembar memegang pegelangan tangan Yura yang sedang memegang setangkai bunga mawar.

“Aku...aku...” air mata Yura membendung di kedua pelupuk matanya.

“Aku...” tes, tes, butiran bening itu akhirnya keluar.

“Uljima, Yura-ah” Yesung menghapus kedua air mata yang keluar dari pelupuk mata Yura.

“Kau tak usah menjawabnya” lanjutnya.

“Karena aku yakin, kau akan menerimanya” Yesung lalu memeluk Yura.


--00--


‘Yura-ah, ini bagaikan mukjizat bagiku, bagimu. Do’a-ku selama ini terkabul. Terimakasih Tuhan, Kau telah mengrimkanku seseorang pendamping hidup yang begitu sempurna. Aku berjanji akan selalu menjaganya, melindunginya, dan hidup bersama selamanya hingga ajal menjemput. Saranghae Lee Yura, Yesongwonhi’ gumam yesung dalam hati.

‘Yesung-ah, terima kasih atas semua penantianmu dan kepercayaanmu selama ini. Semua ini bagaikan mimpi bagiku. Aku tak tahu bagaimana hidup kita di masa depan, apakah cerah atau suram. Tetapi, hanya denganmu aku bisa melewatinya. Kita lewati terowongan yang gelap itu menuju titik terang. Aku yakin kau bisa menuntunku ke titik terang tersebut. Saranghae Kim Yesung, Yeongwonhi’ gumam Yura dalam hati.

-Fin-

Note : Ditunggu Commentnya :)
 

Kamis, 25 April 2013

Happy Birth Day Nindya Syefirra Utami










Diusia gue yang ke 15 ini, gue harap gue bisa
.........................................................................................
.........................................................................................
.........................................................................................
.........................................................................................
.........................................................................................
.........................................................................................

"amiin"

Thanks to
God
My Prophet
My Family
Tiga Planet (Rhea, Luna, Alma)
Agh"Inisial"
My Best Friends
All My Friend



I Love You All


 


Sabtu, 20 April 2013

[Fanfic] Lonely

Author : Nindya Syefirra Utami (@nindyasfira)

Genre : Romance, Sad
Cast : 
Xi Luhan
Lee Yura
Oh Sehun
Note : DO NOT COPY !!!!
Official Website : http://nindyasyefirrautami.blogspot.com
 
 
 
-Happy Reading-
 
 
 
Seorang lelaki berdiri di balik pohon, menatap kedua insan dengan tatapan sendu. Tatapannya tak pernah lepas dari seorang wanita yang sedang bercengkrama dengan seorang pria. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, ia pun tidak mengetahui apa maksud dari perbuatan yang dilakukannya. Lelaki itu mengeratkan mantel berwarna biru dongker yang ia pakai.

Sama halnya dengan pria tadi, wanita yang kini sedang bercengkrama dengan temannya sibuk memikirkan kata-kata yang masih terngiang dipikirannya. Walau pun ia sedang bercengkrama, tetapi pikirannya masih berkecamuk.

“Yura Noona (Kakak Perempuan)” lelaki itu berusaha menyadarkan temannya.

“Ah” wanita yang dipanggil Yura itu tersadar dari lamunannya.

“Kau tak fokus” gumam Sehun kecewa.

“Mianhae Sehun” ia meminta maaf.

“Sudahlah, aku akan pergi ke membeli makanan, kau tunggu di sini” gumamnya sambil berlalu dari hadapan Yura.

Yura menatap setiap inchi pemandangan dari atas bukit ini, sampai pandangannya bertemu dengan seorang pria yang berdiri dibalik pohon. Senyum yang terukir dibibir manisnya perlahan hilang dalam seketika, berganti dengan tatapan kosong.

“Luhan...”  lirih wanita itu.

Air mata turun membasahi wajah cantik wanita itu. Ingin sekali wanita itu berteriak di depan lelaki yang sedang berdiri itu, namun ia tak kuasa. Ia tak mau lagi untuk ‘sakit’ saat berhadapan dengan pria tersebut. 
Terlebih pria itu telah membua perjanjian dengannya.

-Flashback-

“Yura” sapa lelaki berdarah Cina itu dengan senyum terukir dibibirnya.

“Luhan, bogoshipo (aku merindukanmu)” ia langsung memeluk kekasihnya.

“Yak, mengapa kau menjadi manja seperti ini” lelaki itu berpura-pura kesal diikuti tawa renyahnya.

“Tak boleh ?” gadis itu melepaskan pelukannya.

“Kau boleh memelukku sepuasanya Yura” lelaki itu memeluk erat kekasihnya.

“Kau kenapa ?” tanya Yura yang menyadari ada hal ganjil pada diri Luhan saat memeluknya.

“Tak apa” Luhan kembali mengeratkan pelukannya. Merasa aneh dengan tingkah laku Luhan, Yura melepaskan pelukannya.

“Ada masalah ?” Yura mulai berbicara fokus.

“Tak ada” jawab Luhan santai.

“Jawab jujur !” Yura mengajak Luhan untuk duduk di bangku taman.

“Ehm” suara kecil Luhan mengisi kekosongan taman tersebut. Ia menghela nafas, berusaha menghilangkan rasa gugup dan takutnya itu.

“Kita....putus” dua kata yang diucapka Luhan mampu mengubah suasana hati Yura.

“Apa maksudnya ?” bentak Yura dengan emosi yang memuncak.

“Aku tak bisa menjelaskannya Yura, maaf” lirih Luhan.

“Dengan mudahnya kau mengataka PUTUS hah ! Kau tak tahu arti dari kata itu” bentak Yura dengan air mata yang keluar deras.

“Tolong dengarkan aku, ini demi kebaikan kita” Luhan bergumam.

“Kebaikan apa? Ku kira kau pria baik, ternyata... aku kecewa” Yura berteriak keras.

Plakk, sebuah tamparan mendarat di pipi mulus milik Luhan.

“Aku tak mengerti jalan pikiranmu Xi Lu Han” gadis itu menghapus air matanya.

“Dengarkan aku!” Luhan mengenggam pergelangan tangan Yura.

“Apa ? Apa lagi yang akan kau jelaskan ?” Yura tertawa sinis.

“Tolong dekati Sehun....... Terima kasih untuk semua kasih sayang yang terlah kau berikan. Saranghaeyo ( Aku cinta padamu )” Luhan berlalu dari hadapan Yura.

Tubuh Yura melemas, pikirannya sangat amat berkecamuk. Tangisnya semakin menjadi-jadi saat Luhan pergi dari hadapannya. Ia tak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang. Hidupnya telah hancur, tak ada lagi harapan dan semangat untuk hidup.

“Luhan, mengapa kau melakukan ini semua. Ini diluar akal Luhan. Kau gila !” bentak Yura dibalik isakannya.

-Flashback Off-

“Yura Noona” seseorang menyadarkan lamunannya.

“Ah, Sehun” ia tersenyum sangat kecut.

“Cha! Makan ini!” Sehun memberikan makanan ringan kepada Yura.

“Gomawo” Yura mengambil makanan yang diberikan Sehun.

“Ehm, Yura..... Ige” Luhan memberikan sebuket bunga mawar merah.

“Ige mwoya?” tanya Yura.

“Untuk noona” Yura pun menerima bunga pemberian Sehun.

Tanpa disadari oleh Yura, Luhan masih berdiri sembari melihat kejadian yang ada dihadapannya. Ia sangat kaget dengan kejadian ini. Jujur, ia masih sangat amat cinta terhadap Yura. Namun apa daya, ia tak bisa melanjutkan hubungannya. Ia hanya bisa menatap datar kedua insan yang berada di bukit tersebut.

“Ehm, Yura Noona, nan johae (aku suka kamu)” Sehun bergumam.

“Mwo ?” Yura kaget dengan pernyataan yang dilontarkan Sehun.

“Wae? (Kenapa?) Apakah ini karena usia kita yang berbeda ?” tanya Sehun. Yura hanya menggeleng.

“Lalu mengapa ? Apakah aku tidak pantas untukmu Yura ?” Sehun menatap Yura berharap Yura membalas perasaannya.

“Bukan begitu Sehun, maaf” Yura menundukan wajahnya.

“Ah, aku mengerti, kau masih mencintai Luhan Hyung (Kakak laki-laki)” tebak Sehun.

“Buk...bukan... seperti itu” Yura mulai gugup.

“Sudahlah, percuma aku mengatakan perasaanku jika kau masih menyimpan persaan terhadap sepupuku itu” Sehun berteriak lalu pergi meninggalkan Yura.

Tangis Yura pecah. Ia tak tahu apa yang harus ia perbuat. Disatu sisi, ia sangat amat mencintai Luhan tetapi percuma jika Luhan tidak mencintainya.Disisi lain, ia menyayangi Sehun layaknya adik. Seusai kepergian Sehun, Luhan melangkahkan kaki menuju tempat Yura duduk.

“Jangan menagis” hanya itu yang diucapkan Luhan.

Yura mendongakkan wajahnya. Amarahnya kebali memuncak ketika melihat seseorang yang berada disampingnya.

“Kau jahat Luhan. Ini semua karena kau” gumam Yura dengan penuh emosi.

“Maaf” lirih Luhan.

“Hanya itu yang bisa kau katakan ?” Yura tersenyum sinis lalu berdiri.

“Aku tak perlu kata maaf Tuan Xi Lu Han. Aku ingin semua kembali normal, seperti dahulu” Yura berteriak.

“Aku tak bisa” Luhan ikut mensejajarkan dirinya dengan Yura.

“Apa ? Apa yang kau tak bisa hah ? Tak ada yang sulit Luhan, kau bisa menjadi kekasihku kembali lalu kita menjelaskan semuanya kepada Sehun. Aku yakin dia akan mengerti. Setelah itu semuanya kembali normal” Yura membentak.

“Maaf” kata itu terucap lagi dari mulut Luhan.

“Lupakan” Yura pergi meninggalkan Luhan.

“Tunggu !” Teriak Luhan, ia mengejar Yura.

“Yura, awass !!!” bentak Luhan, ia segera berlari mendorong Yura ke trotoar. BRAKKKK!!

“Aww” ringis Yura. Ia melihat kerumunan masa di tengah jalan.

“Permisi, permisi” Yura berusaha merewati kumpulan masa.

“LUHAN” triak Yura.

Ia langsung memeluk Luhan yang berlumuran darah.

“Bertahanlah.....” gumam Yura sembari menangis.

Yura memberika semanget kepada Luhan, walaupun ia tak tahu sampai berapa lama Luhan dapat bertahan. Kondisi Luhan sangatlah parah, darah segar telah memenuhi pakaian Luhan dan Yura. Melihat Luhan di hadapannya dengan keadaan sekarat membuat hatinya sakit. Yura tahu Lhan adalah lelaki yang kuat.
Luhan menggenggam tangan Yura.

“Yura...” dengan sekuat tenaga ia berbicara.

“Ma...afkan aku” Luhan menatap mata Yura.

“Jangan dulu bicara!” Yura menghapus air mata yang keluar dari mata Luhan.

“A..kku maaf” Luhan mengucapkan kata maaf lagi.

“Ya, aku memaafkamu” Yura berusaha menenagkan Luhan.

Senyum terlukis di bibir Luhan. Entahlah, firasaat Yura mengatakan Jika itu adalah senyuman terakhir Luhan.
‘Tuhan, aku mohon berikanlah kekuatan pada Luhan. Semoga ia dapat bertahan dari situasi ini. Amin’

“Yur..ra, sa...sarang..hae” tubuh Luhan mengendor.

“LUHAN” teriak Yura.

Yura hanya bisa menatap sosok Luhan yang terbaring kaku di pangkuannya. Air matanya mengali deras. Saat ini ia hanya bisa memeluk Luhan.

‘Luhan, mengapa kau meninggalkanku secepat ini? Mengapa kau mendorongku saat aku hampir tertabrak? Lebih baik aku yang tertabrak, dari pada aku hidup tanpa semangat. Bagian tulang belakangku telah tiada, bagaimana aku dapat menjalani hidup? Luhan, satu hal yang kamu harus tahu, walaupun ragamu tak bersamaku, tetapi cintamu akan selalu bersamaku, Xi Lu Han saranghaeyo (aku cinta padamu)’ gumam Yura dalam hati.
 
-Fin-

Note : Ditunggu commentnya !

Rabu, 17 April 2013

[Fanfic] Camera


Author : Nindya Syefirra Utami (@nindyasfira)
Genre : Romance, Sad
Cast : 
Kim Yesung
Lee Yura, etc
Note : DO NOT COPY !!!!
Official Website : http://nindyasyefirrautami.blogspot.com



-Happy Reading -


Di dalam bus yang mengangkut penumpang kota Seoul, seorang wanita dengan penampilan paling mencolok sedang terduduk menunggu bus tersebut sampai ke tempat yang ia tuju. Wanita berparas cantik yang dibalut dengan mantel berwarna merah darah, rok berwarna hitam yang menutupi kakinya sebatas paha, kaos kaki berwarna hitam yang menutupi kaki indahnya, dan rambut berwarna coklat tua yang ia gerai, menambah pesona kecantikan alaminya. Lama ia menunggu, ia pun mengeluarkan ponselnya lalu memasang headset agar ia tak merasa jenuh.

Ckitt, bus itu sampai ke tempat yang ia tuju. Ia melangkahkan kaki ke luar dari bus. Layaknya seorang bangsawan, ia melangkahkan kaki sangat pelan. Wanita berkulit agak kecoklatan itu menghentikan langkahnya di depan gedung tua yang masih terlihat kokoh.

Ia terus memandangi bangunan tua itu. Sekilas senyum kebahagiaan terukir dari bibir merahnya itu, namun dalam sekejap butiran air mata turun menghiasi wajahnya. Entah apa yang ada di pikirannya, pikirannya sangat berkecamuk saat ini. Tubuh mungilnya tak bisa digerakan, bagaikan seluruh pusat gravitasi berada di bawah telapak kakinya. Ia hanya mampu menangis memandang bangunan tua yang ada di depannya.

Lama ia berdiri di depan bangunan tua itu. Dengan sekuat tenaga, ia mecoba melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan tua itu. Pagar yang menjulang tinggi menyambut wanita itu. Cklek, ia mendorong kedua bagian pagar tersebut. Keadaan di dalam bangunan tua itu sangatlah sepi karena ini adalah hari libur bagi siswa-siswa sekolah dasar.

-Flashback-

Gadis kecil berambut hitam lurus, menggunakan seragam, dibalut dengan jas almamater sekolahnya, membuat penampilannya makin mencolok diantara teman-temannya. Ia melangkahkan masuk ke dalam aula sekolah dasarnya didampingi oleh kedua orang tuannya. Kedua orang tuanya langsung duduk di bangku penonton, sedangkan anak semata wayangnya bergabung dengan teman-temannya.

“Ah, Yura-ah, kau sangat cantik hari ini” puji Hanna, teman Yura.

“Gomawo” ia tersipu malu.

“Baiklah Yura-ah, aku mau mempersiapkan acara perpisahan sekolah ini” kata Hanna.

“Changkamman Hanna-ah !” teriak Yura.

“Wae ?” tanya Hanna.

“Ehmm, apakah kau melihat ngggg... Yesung ?” tanya Yura dengan nada ragu.

“Yesung ? Tadi aku melihatnya sedang berdiri di atas balkon kelas 2-2” jawab Hanna.

“Oh, gomawo” balas Yura.

Yura segera berlari menuju balkon di lantai dua. Langkah gadis kecil itu terhenti di ujung tangga ketika ia melihat Yesung sedang menerawang ke atas langit diatas balkon tersebut. Pandangannya sangatlah teduh. ‘Ada apa dengan lelaki itu ?’ batin Yura.

“Yesung-ah” teriak Yura.

Namun lelaki itu hanya membalikan kepalanya, lalu kembali ke aktivitas semulanya. Yura masih berdiri terpaku melihat tingkah Yesung yang mendadak aneh ini.

“Argh, sial” teriak Yesung sembari melewati Yura tanpa menyapanya.

“Yesung-ah, ada apa denganmu ?” Yura membalikan tubuhnya untuk melihat Yesung yang sedang menuruni tangga. Langkah Yesung terhenti. Ia tak berkata apa pun. Yura bergegas menuruni tangga untuk mensejajarkan dirinya dengan Yesung.

“Yesung-ah, lihat aku !” bentak Yura, perlahan air mata turun dari mata hazelnya. Gadis itu berusaha menahan emosinya yang hampir memuncak akibat tingkahlaku Yesung yang mendadak aneh.

“Lihat aku ! Tatap mata aku !” Yura memegang wajah Yesung dengan kedua tangannya.

“Apa yang terjadi denganmu ? Ceritakanlah padaku !” bentak Yura. Namun Yesung hanya memberikan tatapan kosong terhadap Yura.

“Kau tahu ? Aku ini sahabatmu Yesung-ah. Lima tahun kita bersahabat, mengapa kau berubah dalam sekejap, hah ? Kau benar-benat tak mengerti apa yang aku rasakan sekarang Yesung-ah !” bentak Yura dengan emosi yang tidak bisa terkontrol lagi.

“Baik, jika itu maumu “ Yura menghapus air mata yang keluar dari pelupuk matanya.

“Kau tahu Yesung-ah, aku akan pindah ke Busan. Mungkin aku tak akan kembali ke Seoul lagi. Mianhae Yesung-ah. Aku hanya meminta satu hal darimu, jangan pernah lupakan aku Yesung-ah. Terima kasih atas persahabatan kita selama lima tahun ini. Annyeong !” Yura pergi meninggalkan Yesung dengan langkah gontai. Yesung hanya diam terpaku tak bisa bergerak sedikit pun. Tanpa Yura sadari, Yesung mengeluarkan air mata. Air mata pertama yang keluar dari seorang anak lelaki yang sangat periang itu. ‘Yura-ah mianhae’ batin Yesung.

-Flashback End-

Yura melangkahkan kakinya menuju balkon, tempat terakhir ia bertemu dengan Yesung. Ia menghela nafas, merasakan udara yang sangat dingin menusuk tulangnya. Ia menghentikan langkahnya di pertengahan tangga.

“Disini !” gumam Yura.

“Apakah kau ingat Yesung-ah ?” Yura berbicara sendiri, layaknya Yesung ada disana.

“Di tempat ini, terakhir kali aku berbincang denganmu tanpa kau hiraukan, dimana dirimu Yesung-ah? Jeongmal bogoshipo.” butiran air mata kembali membasahi wajah cantik Yura. Yura menghapus air matanya, ia menghela nafas lalu tersenyum getir. ‘Tuhan, walau pun hal ini pasti mustahil, tetapi aku akan tetap memohon pada-Mu. Semoga aku dapat bertemu dengan Yesung. Amin’ batin Yura. Ia pun melanjutkan menaiki tangga itu.

Langkah Yura terhenti ketika melihat seorang lelaki yang sangat ia kenal. Walau pun ia berpenampilan lebih dewasa dan berperawakan tinggi.

“Kim Yesung..” lirih Yura.  

Yura tak tahu apa yang ia rasakan, amarahnya dan perasaan bahagianya berkecamuk didalam dirinya. Dilihatnya, lelaki tampan itu mencoba mengambil posisi kameranya, lalu membidik pemandangan alam tersebut. Ia pun tersenyum ketika melihat hasil bidikannya.

“Kemana kau selama ini, hah ?” dengan langkah besar Yura menghampiri lelaki bernama Yesung. Setelah ia dekat dengan lelaki itu, ia langsung merebut kamera yang sedang lelaki itu gunakan dan melemparnya ke sembarang tempat.

Yesung terlihat akan meledak, namun amarahnya terhenti saat melihat wanita yang berada di depannya. Mata beningnya menatap Yura kaget. Wajahnya perlahan melembut berganti dengan tatapan datarnya.

“Kemana kau selama ini, Kim Yesung ?” bentak Yura sembari menatap tajam kedua bola mata Yesung.

Grepp, Yesung langsung memeluk Yura. Tangis Yura pun pecah, membasahi mantel hitam yang digunakan oleh Yesung.

“Mianhae” hanya satu kata yang keluar dari mulut Yesung. Yura membalas pelukan Yesung, meluapkan semua perasaan yang mereka pendam selama 10 tahun terakhir. Lama mereka melepas rasa rindu mereka, Yesung pun melepas pelukannya.

“Uljima” Yesung menghapus air mata Yura.

 “Kau jahat Yesung-ah !” Yura memukul dada bidang Yesung.

“Ya, arraseo, nan nappeun namja” gumam Yesung memegang tangan Yura.

“Mianhae, Yura-ah” Yesung melanjutkan perkataannya.
 
“Kau tahu perasaanku saat itu, saat kau mengacuhkanku ?” kata Yura.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf” Yesung melirih. Yesung menyuruh Yura duduk di bangku.

“Jadi, apa maksudmu melakukan semua itu Tuan Kim Yesung ?” Yura mulai mengintrogasi Yesung.

“Mianhae, aku hanya.... Aku belum siap ditinggalkan oleh sahabat terdekatku, Yura-ah. Maaf, atas perbuatanku” ia menunduk malu.

“Sudahlah, aku tak mempersalahkan lagi” Yura menarik nafas, membentuk senyuman.

“Ternyata Tuhan mengabulkan do’a ku” gumam Yura.

“Kau berdo’a apa eoh ?” tanya Yesung.

“Aku berdo’a agar aku dapat bertemu denganmu” Yura membelakangi Yesung. Yesung lalu mensejajarkan dirinya dengan Yura.

“Kapan kau pulang dari Busan ?” tanya Yesung.

“Minggu lalu, besok aku akan kembali ke Busan” jawab Yura.

Oh” Yesung menampilkan ekspresi sedih.

“Ya, aku akan kembali ke Busan besok. Kau kira aku akan bolos kuliah lagi, eoh ?” yura menggerutu.

“Ya, ku kira kau tak sekolah” dilanjut dengan tawa garing Yesung.

“Yak, kau Kim Yesung !!” bentak Yura.

“Bukankah kau selalu loading dalam berpikir ? Bagaimana kau dapat menagkap pelajar dari guru atau dosenmu ?” Yesung menggoda Yura.

“Ya, kau tak tahu, aku ini calon ahli Kimia” Yura membanggakan dirinya.

“Apa ? Ahli Kimia ? Apakah universitas itu gila ? Menerima murid slow motion sepertimu ?”

“Ya, Jangan merendahkanku ! Oh, sekarang kau kuliah dimana ?” tanya Yura.

“Aku ? Seoul University, jurusan teknik peleburan tembaga” jawab Yesung.

“Oh, ya Yesung-ah, besok aku akan kembali ke Busan. Kau tak ingin mengajakku pegi bermain, eoh ?” tanya Yura.

“Kau ingin bermain ? Kau kira kita ini anak sekolah dasar, huh” diikuti cibiran dari Yesung.

“Arraseo” jawab Yura dengan wajah tertunduk.

“Kau ingin bermain ? Ikut aku !!” Yesung menarik tangan Yura.

“Changkamman, kameramu ?” tanya Yura.

“Abaikan !” ia lalu menarik kembali tangan Yura.


-----------------------


“Cepat turun !” Yesung menyuruh Yura turun dari mobilnya.

“Dimana ini ?” tanya Yura.

“Ini music studio milik ayahku” Yesung berjalan mendahului Yura.

“Kau bisa bermain musik ?” tanya Yesung. Yura menggeleng, tanda ia tak bisa bermain music.

Sudah kuduga, sampai seberapa jauh tingkat kepintaran manusia sepertimu, hah? Kau itu benar-benar
bodoh Yura, otak kanan dan kirimu semuanya tidak berfungsi” Yesung mencibir Yura.

“Sudah ku katakan, jangan menghinaku !” Yura mendengus kesal.

Yura duduk di atas sofa sambil memperhatikan Yesung yang dengan lihainya memainkan hampir semua alat musik. ‘Andai waktu dapat berhenti disini’ gumam Yura dalam hati.

“Cha! Kau ingin mencobanya ?” Yesung memberikan stick drum kepadaku.

“Aku tak bisa” Yura menolak.

“Ayolah, aku ajarkan” kata Yesung.

Yura duduk di atas kursi, lalu memukul drum tersebut dengan sticknya.

Yak, bukan seperti itu” gumam Yesung. Ia memegang tangan Yura yang sedang memegang stick dan memukulkannya ke drum, membentuk nada yang sangat simple, tetapi sangat nikmat untuk di dengarkan.


------------------------


Keesokan harinya...

Yura berdiri di depan halte, menunggu bis yang akan mengantarkannya menuju Busan. Ckitt, sebuah Bis berhenti dihadapan Yura. Ketika ia aka melangkahkan kakinya ke dalam bus, seseorang menahan tangannya.

“Changkamman” teriak Yesung, lelaki yang menahan tangannya.

Grepp, ia langsung memeluk Yura. Selah-olah Yura tak boleh lepas dari genggamannya. Sama halnya saat pertama kali ia bertemu dengan Yura, ia memeluk erat Yura sambil merasakan gejolak yang ada dihatinya.
Yesung menggenggam tangan Yura.

“Yura-ah, tatap mataku” nada Yesung berubah menjadi serius.

 “Nan johae, Nan jeongmal saranghae” Yesung mengucapkan mantra sakti yang Yura tunggu semenjak 11 tahun lalu.

Dag-dig-dug jantung Yura berdetak berpuluh kali lebih cepat. Kakinya perlahan melemas.

“Mianhae” satu kata yang keluar dari mulut Yura mampu membuat Yesung melepas genggamannya. Namun Yura kembali mengeratkan genggamannya.

“Bukan aku menolak atas penyataanmu, tapi ini bukan saat yang tepat Yesung-ah. Aku yakin jika kita berjodoh, suatu saat kita akan dipertemukan kembali, nado saranghae” Yura memberi semangat pada Yesung.

“Ok, aku akan menunggu sampai saat itu tiba. Yura-ah tunggu aku !!” ucap Yesung dengan senyum tulusnya.

“Annyeong Yesung-ah” Yura membungkukkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menuju bus.


------------------------


‘Yura-ah, aku yakin suatu saat kita akan dipertemukan. Aku tak sabar menunggu saat itu, saat kau menjadi bagian dari tulang rusukku, menjadi pendampingku seumur hidup hingga ajal menjemput, menjadi ibu dari anak-anakku, menjadi halmeoni dari cucu-cucuku, dan menjadi temanku dalam membagi suka dan duka,
 Lee Yura-ah Saranghae, yeongwonhi’ batin Yesung.

‘Yesung-ah, aku sangat tahu jika kau mencintaiku dengan tulus. Namun ini bukan saat yang tepat bagiku, bagimu, untuk menjalin hubungan. Aku harap jika kita akan berjodoh, amin. Kim Yesung Saranghae, yeongwonhi’ batin Yura.



-FIN-

Note : Ditunggu commentnya